PENGOLAHAN KOTORAN KAMBING SEBAGAI
SAMPAH ORGANIK MENJADI PUPUK KOMPOS DAN PEMANFAATAN KARDUS BEKAS MENJADI
BINGKAI FOTO YANG MENARIK
LAPORAN PENELITIAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Pencemaran Lingkungan

Disusun oleh:
Kelompok 2 / Kelas 3B
| Nama | NPM |
| Anggarini Puspitasari | 092154041 |
| Fani Nurseptianto | 092154043 |
| Eka Siti Maemunah | 092154048 |
| Nike Ayu Wandira | 092154049 |
| Ai Sri Komalasari | 092154056 |
| Konita Khusnul Khotimah | 092154057 |
| Rendi Siswanto | 092154065 |
| Siti Nurhayati | 092154068 |
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNVERSITAS SILIWANGI
TASIKAMALAYA
2011
- Latar Belakang Masalah
Kelestarian lingkungan hidup merupakan sesuatu yang harus selalu kita jaga. Hal ini demi kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita dimasa depan. Namun, sangat ironis sekali jika kita lihat dijaman sekarang. Kemajuan teknologi industri disana sini taklantas di imbangi dengan kesadaran kita akan dampak dari limbah hasil industri tersebut. Hal ini lah yang menyebabkan kelestarian lingkungan kian hari kian buruk.
Contoh kecilnya saja ialah sampah. Permasalah sampah merupakan hal yang krusial. Bahkan, sampah dapat dikatakan sebagai masalah kultural karena dampaknya terkena pada berbagai sisi kehidupan. Menurut prakiraan, volume sampah yang dihasilkan per orang rata-rata sekitar 0,5kg/kapita/hari. Dengan jumlah yang tergolong besar tersebut, perlu adanya penanganan yang khusus.
Secara umum sampah yang kita kenal adalah sampah organik (biasa disebut juga sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Oleh karena itu pengelolaan sampah yang terdesentralisisasi sangat membantu dalam meminimasi sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal.
Bagian yang dikomposkan biasanya adalah sampah organik. Hasil akhir dari proses pengkomposan ini adalah berupa pupuk. Dewasa ini pemupukan dengan pupuk anorganik atau pupuk buatan penggunaannya semakin meningkat. Hal ini bila berlangsung terus dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hara dalam tanah, dan rusaknya struktur tanah, sehingga dapat menurunkan produktivitas tanah pertanian. Salah satu alternatif untuk mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan pemberian bahan organik seperti pupuk kandang ke dalam tanah. Pemberian pupuk kandang, selain dapat meningkatkan kesuburan tanah juga dapat mengurangi penggunaan pupuk buatan yang harganya relatif mahal dan terkadang sulit diperoleh.
Untuk memudahkan kita dalam memperolehnya, tidak ada salahnya kita untuk mencoba membuat pupuk kandang sendiri. Yakni dengan memanfaatkan kotoran ternak, seperti kotoran kambing, sapi, ayam, dan sebagainya. Berdasarkan hal tersebut kami berfikir untuk melakukan penelitian, yakni dengan memanfaatkan kotoran kambing untuk dijadikan pupuk organik. Dikarenakan bahan tersebut banyak tersedia disekitar lingkungan tempal tinggal.
Sedangkan bagian yang didaur-ulang biasanya adalah sampah anorganik atau sampah kering, karena sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi (membusuk / hancur) secara alami. Oleh karenanya kembali kepada kita sendiri untuk mengolah dan memanfaatkannya agar menjadi barang atau benda yang berguna kembali dengan tidak melepaskan nilai estetikanya. Contohnya saja dari kaleng bekas, kertas bekas, plastik, kardus, botol dan yang lainnya. Semua itu dapat dijadikan benda yang memiliki nilai ekonomi lebih jika kita terampil mengolahnya.
Kita sering melihat tumpukan-tumpukan dus bekas yang akhirnya hanya dikumpulkan dan dijual ke pengepul barang bekas. Padahal jika kita lebih kreatif, banyak hal yang bisa dibuat dari kardus bekas tersebut. Begitupun materi yang dihasilkan akan lebih banyak dibandingkan jika kita hanya menjualnya saja. Hal itulah yang menjadi dasar mengapa kami mengambil kardus untuk dijadikan bahan penelitian kami.
- Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas kami merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Pencemaran Lingkungan, macam dan penyebabnya?
2. Bagaimana cara pemanfaatan sampah organik dan anorganik dalam penanggulangan pencemaran lingkungan?
3. Apa saja keuntungan yang didapat dari pengolahan sampah organik dan anorganik?
- Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Definisi, macam, dan penyebab pencemaran lingkungan.
2. Cara pemanfaatan sampah organik dan anorganik.
3. Keuntungan dari pengolahan sampah organik dan anorganik.
- Manfaat Penelitian
1. Akademis
Dengan adanya proposal penelitian ini diharapkan menjadi suatu tambahan ilmu dan bernilai manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi program studi pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi.
2. Praktis
Dari penyusunan proposal ini diharapkan mahasiswa mampu mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah setelah mempelajari bahasan ini.
- Landasan Teoritis
1. Pencemaran Lingkungan
Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982).
Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya di sebut ekologi. Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupannya dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Dari definisi diatas tersirat bahwa makhluk hidup khususnya merupakan pihak yang selalu memanfaatkan lingkungan hidupnya, baik dalam hal respirasi, pemenuhan kebutuhan pangan, papan dan lain-lain. Dan, manusia sebagai makhluk yang paling unggul di dalam ekosistemnya, memiliki daya dalam mengkreasi dan mengkonsumsi berbagai sumber-sumber daya alam bagi kebutuhan hidupnya.
Berdasarkan lingkungan yang mengalami pencemaran, secara garis besar pencemaran lingkungan dapat dikelompokkan menjadi pencemaran air, tanah, dan udara.
a. Pencemaran Air
Di dalam tata kehidupan manusia, air banyak memegang peranan penting antara lain untuk minum, memasak, mencuci dan mandi. Di samping itu air juga banyak diperlukan untuk mengairi sawah, ladang, industri, dan masih banyak lagi.
Tindakan manusia dalam pemenuhan kegiatan sehari-hari, secara tidak sengaja telah menambahjumlah bahan anorganik pada perairan dan mencemari air. Misalnya, pembuangan detergen ke perairan dapat berakibat buruk terhadap organisme yang ada di perairan. Pemupukan tanah persawahan atau ladang dengan pupuk buatan, kemudian masuk ke perairan akan menyebabkan pertumbuhan tumbuhan air yang tidak terkendali yang disebut eutrofikasi atau blooming. Beberapa jenis tumbuhan seperti alga, paku air, dan eceng gondok akan tumbuh subur dan menutupi permukaan perairan sehingga cahaya matahari tidak menembus sampai dasar perairan. Akibatnya, tumbuhan yang ada di bawah permukaan tidak dapat berfotosintesis sehingga kadar oksigen yang terlarut di dalam air menjadi berkurang.
Bahan-bahan kimia lain, seperti pestisida atau DDT (Dikloro Difenil Trikloroetana) yang sering digunakan oleh petani untuk memberantas hama tanaman juga dapat berakibat buruk terhadap tanaman dan organisme lainnya. Apabila di dalam ekosistem perairan terjadi pencemaran DDT atau pestisida, akan terjadi aliran DDT.
b. Pencemaran Tanah
Tanah merupakan tempat hidup berbagai jenis tumbuhan dan makhluk hidup lainnya termasuk manusia. Kualitas tanah dapat berkurang karena proses erosi oleh air yang mengalir sehinggakesuburannya akan berkurang. Selain itu, menurunnya kualitas tanah juaga dapat disebabkan limbah padat yang mencemari tanah.
Menurut sumbernya, limbah padat dapat berasal dari sampah rumah tangga (domestik), industri dan alam (tumbuhan). Adapun menurut jenisnya, sampah dapat dibedakan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik berasal dari sisa-sisa makhluk hidup, seperti dedaunan, bangkai binatang, dan kertas. Adapun sampah anorganik biasanya berasal dari limbah industri, seperti plastik, logam dan kaleng.
Sampah organik pada umumnya mudah dihancurkan dan dibusukkan oleh mikroorganisme di dalam tanah. Adapun sampah anorganik tidak mudah hancur sehingga dapat menurunkan kualitas tanah.
c. Pencemaran Udara
Udara dikatakan tercemar jika udara tersebut mengandung unsur-unsur yang mengotori udara. Bentuk pencemar udara bermacam-macam, ada yang berbentuk gas dan ada yang berbentuk partikel cair atau padat.
· Pencemaran Udara Berbentuk Gas
Beberapa gas dengan jumlah melebihi batas toleransi lingkungan, dan masuk ke lingkungan udara, dapat mengganggu kehidupan makhluk hidup. Pencemar udara yang berbentuk gas adalah karbon monoksida, senyawa belerang (SO2 dan H2S), seyawa nitrogen (NO2), dan chloroflourocarbon (CFC).
Kadar CO2 yang terlampau tinggi di udara dapat menyebabkan suhu udara di permukaan bumi meningkat dan dapat mengganggu sistem pernapasan. Kadar gas CO lebih dari 100 ppm di dalam darah dapat merusak sistem saraf dan dapat menimbulkan kematian. Gas SO2 dan H2S dapat bergabung dengan partikel air dan menyebabkan hujan asam. Keracunan NO2 dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, kelumpuhan, dan kematian. Sementara itu, CFC dapat menyebabkan rusaknya lapian ozon di atmosfer.
· Pencemaran Udara Berbentuk Partikel Cair atau Padat
Partikel yang mencemari udara terdapat dalam bentuk cair atau padat. Partikel dalam bentuk cair berupa titik-titik air atau kabut. Kabut dapat menyebabkan sesak napas jika terhiap ke dalam paru-paru.
Partikel dalam bentuk padat dapat berupa debu atau abu vulkanik. Selain itu, dapat juga berasal dari makhluk hidup, misalnya bakteri, spora, virus, serbuk sari, atau serangga-serangga yang telah mati. Partikel-partikel tersebut merupakan sumber penyakit yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
Partikel yangmencemari udara dapat berasal dari pembakaran bensin. Bensin yang digunakan dalam kendaraan bermotor biasanya dicampur dengan senyawa timbal agar pembakarannya cepat mesin berjalan lebih sempurna. Timbal akan bereaki dengan klor dan brom membentuk partikel PbClBr. Partikel tersebut akan dihamburkan oleh kendaraan melalui knalpot ke udara sehingga akan mencemari udara.
2. Sampah
Dalam kehidupan, manusia tidak dapat dilepaskan dari sampah. Setiap hari manusia selalu menghasilkan sampah yang semakin hari semakin banyak jumlahnya. Sampah di perkotaan telah menjadi masalah yang cukup rumit sehingga kadang sulit untuk mengatasinya.
Sampah adalah sisa-sisa barang atau benda yang sudah tak terpakai yang akhirnya dibuang. Sampah di negara kita begitu berlimpah sehingga timbul masalah dalam pembuangannya. Dulu pernah ada kota yang menghadapi persoalan mengenai sampah sampai-sampai di tiap sudut kota ditemukan sampah yang berserakan dan menggunung yang membuat kita terkejut dengan banyaknya sampah yang ada. Sehingga kota tersebut sempat dijuluki kota sampah. Hal itu terjadi akibat terbatasnya tempat untuk pembuangan sampah dan tidak adanya alternatif lain untuk memanfaatkan sampah yang ada. Sampah yang bertumpuk menimbulkan bau tak sedap dan penyakit menular yang berbahaya bagi manusia. Sedangkan di lain tempat banyak orang yang membuang sampah sembarangan ke selokan atau sungai yang akhirnya menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir.
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung.
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyrakat.
Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3). [Bapedalda, 2000]. Selain Jakarta, jumlah sampah yang cukup besar terjadi di Medan dan Bandung. Kota metropolitan lebih banyak menghasilkan sampah dibandingkan dengan kota sedang atau kecil.
Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2 yaitu
a. Sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah)
Sapah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dll. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami.
b. Sampah anorganik (sampah kering).
Sebaliknya dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, dll. Sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami.
Peningkatan jumlah penduduk yang begitu pesat dan gaya hidup masyarakatnya berpengaruh besar pada volume sampah yang dihasilkan. Bila hal ini tidak cepat ditangani akan semakin komplek masalah yang ditimbulkan akibat sampah. Jadi sampah perlu penanganan semua pihak bukan hanya oleh pemerintah saja tetapi kita ikut aktif bertindak terhadap masalah tersebut. Paling tidak kita dapat memanfaatkan sampah dari hasil rumah tangga kita sendiri.
3. Cara Pemanfaatan Sampah Organik dan Anorganik
Cara yang dapat dilakukan adalah sebelum membuang sampah pilahlah terlebih dahulu sampah organik dan sampah anorganik. Pemanfaatan sampah organik adalah dengan cara mengumpulkan sampah organik kemudian diolah dengan cara pengomposan. Upaya pengolahan ini akan menghasilkan pupuk sebagai penyubur tanah dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme, seperti bakteri, jamur, serangga dan cacing. Bila kita mempunyai lahan/pekarangan yang cukup luas sampah organik dapat dikubur di lahan kosong/pekarangan rumah. Tetapi bila lahan kita terbatas, masukkan sampah sisa rumah tangga berupa sisa sayuran atau daun-daun ke dalam kotak. Kotak ini dapat kita buat demgam ukuran 60x60x20 cm3. Kemudian isi kotak dengan daun, sisa sayuran lalu masukkan beberapa ekor cacing tanah/merah lalu masukkan pula dua genggam tanah. Lakukan hal tersebut setiap hari, sehingga lama kelamaan sampah tersebut berubah menjadi kompos yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman kita.
Pemanfaatan sampah organik yang lain adalah sampah organik dicampur dengan air kemudian dimasukkan ke dalam tempat yang kedap udara dan dibiarkan selama lebih kurang dua minggu sehingga menghasilkan biogas. Biogas ini dapat dimanfaatkan untuk memasak yang tingkat polusinya relatif kecil.
Sampah anorganik berupa kaleng bekas dapat dimanfaatkan lagi misalnya untuk pot tanaman, atau diberikan kepada pengumpul barang bek as untuk diolah lagi di pabrik/industri daur ulang begitu pula botol bekas minuman. Untuk sampah kertas/koran dapat diproses menjadi kertas daur ulang. Hancurkan kertas bersama air dengan alat blender kemudian disaring lalu letakkan pada tempat cetakan untuk selanjutnya dikeringkan. Produk kertas ini dapat digunakan untuk berbagai kerajinan tangan (handycraft).
Bila kita aktif melakukan pemanfaatan sampah, sedikit banyak akan berdampak pada lingkungan kita dan yang terpenting kita telah ikut melakukan penghematan baik itu penghematan uang atau penghematan energi.
4. Limbah Peternakan (kambing)
Limbah peternakan merupakan produk dari usaha peternakan, yang keberadaannya tidak dikehendaki sehingga harus dibuang. Limbah peternakan terdiri dari banyak jenis sesuai ternak yang menghasilkannya. Usaha budidaya ternak (kambing) menghasilkan limbah berupa kotoran ternak (feces, urine), sisa pakan ternak seperti potongan rumput, jerami, dedaunan, konsentrat dan sejenisnya. Selama ini pemanfaatan pupuk organik dimaksud langsung digunakan untuk pemupukan, tanpa melalui proses pengolahan. Kondisi ini dimungkinkan terjadi mengingat antara lain: tidak disadarinya manfaat dan fungsi pengolahan kotoran kambing, kurangnya pengetahuan proses pembuatan pupuk organik secara sederhana dan cepat, kurangnya pemahaman mengenai nilai tambah pupuk organik dari kotoran ternak dan kurangnya pemahaman para peternak khususnya terhadap dampak negatif yang ditimbulkan dari pencemaran lingkungan oleh kotoran ternak.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh limbah ternak (khususnya kotoran kambing) secara sederhana dan cepat serta memberikan manfaat ekonomis bagi para peternak adalah melakukan proses pengolahan dengan menggunakan bantuan M-Bio.
F. Rancangan Penelitian
1. Pengolahan Kotoran Kambing
a. Bahan dan Alat yang Digunakan
1) Bahan
a) Kotoran kambing yang sudah kering dengan kadar air 15 – 85 %, 10 kg
b) Sampah organik berupa sisa - sisa pakan kambing 10 % = 1kg
c) Air 2 liter
d) 15 sendok makan M-Bio
e) Dolomit / kapur gamping 0,5 kg
f) Gula pasir ¼ kg
2) Alat
a) Cangkul untuk menggali tanah dan mencampur atau membalikkan kotoran kambing
b) Ember untuk membuat larutan M-Bio
c) Penutup (berupa plastik)
b. Tahapan Pembuatan
1) Aduk kotoran kambing supaya tidak menggumpal atau jika ada sisa – sisa pakan agar tercampur
2) Campur dengan larutan M-Bio sambil diaduk sedikit demi sedikit sampai betul – betul rata
3) Pemberian larutan M-Bio dihentikan bila adonan diatas sudah cukup baik / merata, dengan ciri tidak adanya lelehan air jika adonan dikepal dengan tangan
4) Tutup rapat dengan alat penutup, agar tidak kena sinar matahari langsung
5) Setelah 3 hari adonan dibongkar dan diaduk – aduk sambil ditambahkan lagi larutan M-Bio sampai mencukupi (sama seperti di atas). Hal yang sama dilakukan sampai umur 1 minggu.
6) Umur 1 minggu siap dibongkar kembali sambil diaduk – aduk dengan maksud diangin – anginkan sambil diberi kapur secara merata untuk selanjutnya pupuk siap digunakan.
2. Pemanfaatan Kardus Bekas Menjadi Bingkai Foto Yang Menarik
a. Alat dan bahan
1) Kardus bekas
2) Payet dan kancing
3) Mika bening
4) Tali
5) Kertas kado dan kertas lipat
6) Gunting
7) Lem
8) Pencil
9) Penggaris
10) Kater
b. Cara Pembuatan
1) Buat pola terlebih dahulu sesuai dengan foto yang kita inginkan.
2) Gunting kardus bekas sesuai dengan pola.
3) Lapisi bagian depan kardus dengan mika kemudian bungkus dengan kertas kado/kertas lipat,sedangkan bagian belakang hanya dibungkus dengan kertas kado/kertas lipat saja.
4) Gabungkan kedua kardus tersebut menggunakan lem sehingga terbentuk lubang yang berbentuk persegi panjang.
5) Beri hiasan payet/kancing sesuai dengan selera kita.
- Pelaksanaan Penelitian
1. Pembuatan Pupuk Organik
Hari : Selasa
Tanggal : 04 Oktober 2011
Tempat : Rumah Konita Khusnul Khotimah
2. Pembuatan Bingkai Foto dari Koran bekas
Hari : Senin
Tanggal : 10 Oktober 2011
Tempat : Kos-an Ai Sri Komalsari
- Pembahasan Penelitian
Berdasarkan langkah penelitian yang kelompok kami lakukan terhadap kotoran kambing dan kardus bekas didapat data sebagai berikut.
1. Pengolahan Kotoran Kambing Menjadi Pupuk Kompos
Pada pembuatan pupuk dari kotoran kambing kami membutuhkan lubang tanah berukuran 60x50 cm. Lubang tersebut harus terhindar dari matahari langsung. Waktu yang dipelukan pun hanya 7 hari atau seminggu, lebih singkat dari prosedur yang seharusnya. Hal ini karena waktu pengumpulan produk dan laporan yang cepat. Seharusnya waktu yang diperlukan untuk pembuatana pupuk ini adalah sekitar 3 minggu. Untuk mempersingkat waktu pengolahan, kami menambahkan larutan M-Bio dari 5 sendok makan menjadi 15 sendok makan agar pupuk bisa lebih cepat matang. Setelah 1 minggu pupuk siap digunakan.
2. Pemanfaatan Kardus Bekas Menjadi Bingkai Foto Yang Menarik
Pada proses pembuatan bingkai foto, kami memakai kardus bekas kertas yang diambil dari tempat fotokopian. Hal ini karena kardus tersebut lebih tipis dan rata jika dibandingkan dengan kardus bekas mie instan atau yang lainnya yang tebal dan mudah kusut. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk membuatnya dari kardus mie atai kardus bekas lainnya.
Proses pembuatannya cukup sederhana dan mudah dilakukan. Kita tinggal membuat pola pada kardus sesuai dengan ukuran foto, kemudian gunting sesuai pola. Kami menggunakan kertas kado dan kertas lipat untuk membungkus bagian luar kardus agar terlihat lebih menarik. Kaca yang biasanya dipakai untuk melindungi foto, kami ganti dengan mika bening agar bingkai lebih ringan. Hiasan yang digunakan pun sangat sederhana, yakni dari kancing dan payet. Akhirnya kardus yang tadinya hanya dipandang sebelah mata kini tampak lebih indah dan bermanfaat.
- Simpulan
Berdasarkan pembahasan penelitian diatas, kami menyimpulkan:
1. Kotoran kambing sangat mudah untuk dijadikan pupuk organik.
2. Dengan penambahan M-Bio sesuai perbandingan, proses pembuatan pupuk bisa dipercepat.
3. Kardus bekas dapat dijadikan bingkai foto yang menarik.
4. Kardus bekas kertas lebih mudah dibentuk daripada kardus bekas mie dan yang liannya.
- Daftar Pustaka
Anonim. Tanpa Tahun. Pencemaran Lingkungan. hend-learning.blogspot.com/ [25 September 2011]
Anonim. Tanpa Tahun. Manfaat Pupuk Kandang. www.lestarimandiri.org/.../pupuk...pupuk/...pupuk.../31-pupuk-kand... [25 September 2011]
Kristanto, Philip. (2004). Ekologi Industri. Yogyakarta: Andi offset
Sastrawijaya, A. Tresna. (2000). Pencemaran Lingkungan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Sudrajat. (2008). Mengelola Sampah Kota. Jakarta: Penebar Swadaya
Suherneti, Nita, dkk. (2009). Pendidikan Lingkungan Hidup. Jakarta: PT. Grasindo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar